Pelita Air Pertamina Luncurkan Layanan Penerbangan Berjadwal

  • Whatsapp

Pelita Air Pertamina Luncurkan Layanan Penerbangan Berjadwal

 

Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, telah melakukan penerbangan terjadwal perdana dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali pada hari Kamis, menandai tonggak penting dalam transformasi untuk memasuki Indonesia pasar perjalanan udara domestik.

Pelita adalah maskapai terbaru yang berusaha masuk ke pasar penerbangan berjadwal Indonesia karena industri penerbangan negara itu menantikan pemulihan setelah pandemi Covid-19 mereda.

Dendy Kurniawan, Direktur Utama Pelita Air, mengatakan maskapai memilih Jakarta-Bali sebagai rute pertama karena merupakan rute domestik tersibuk di Indonesia.

“Rute ini dipilih karena merupakan destinasi favorit wisatawan, seiring pandemi berangsur-angsur menjadi endemik,” kata Dendy.

Dia mengatakan maskapai mengharapkan penerbangan penuh pada rute selama periode liburan Idul Fitri 2022 minggu depan dan beban tinggi berikutnya dari perjalanan bisnis sesudahnya.

Pelita Air terbang sekali sehari dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 09.20 WIB dan tiba di Bali pada pukul 12.10 WIB. Waktu Indonesia Tengah. Penerbangan pulang berangkat pukul 14.55 dan tiba pukul 15.45.

Pelita Air Service saat ini mengoperasikan dua pesawat jet berbadan sempit Airbus A320-200. Kedepannya, maskapai berencana membuka rute perjalanan ke destinasi wisata dan bisnis favorit lainnya di Indonesia.

“Kembalinya penerbangan reguler Pelita Air ini diharapkan dapat mengembalikan kerinduan penumpang akan pengalaman penerbangan yang menyenangkan bersama Pelita Air,” kata Deddy.

Pelita Air dimulai sebagai penerbangan carteran di bawah Pertamina, menyediakan transportasi udara ke berbagai lokasi pengeboran minyak dan gas perusahaan di seluruh Indonesia. Per 31 Desember 2020, perseroan mengoperasikan 15 helikopter dan sembilan pesawat.

Perusahaan juga memiliki pesanan sebanyak 23 unit pesawat A320 yang rencananya akan dikirimkan pada tahun 2023.

Tidak Mengulangi Kesalahan Pendahulu

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir yang meluncurkan penerbangan perdana pada Kamis mengatakan, masuknya Pelita Air ke pasar penerbangan berjadwal merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk melayani pelancong udara domestik.

Erick mengatakan data perjalanan pra-pandemi menunjukkan bahwa wisatawan domestik membuat sekitar 72 persen dari perjalanan udara Indonesia, dengan nilai ekonomi sekitar Rp 1.400 triliun ($ 96,5 miliar). Itu dibandingkan perjalanan udara internasional yang menghasilkan sekitar Rp 300 triliun bagi perekonomian.

Artinya, ada potensi luar biasa yang belum dimaksimalkan BUMN di sektor penerbangan dalam negeri, kata Erick.

“Maka, saya meminta dan mewajibkan Pelita Air menjadi salah satu tulang punggung perkembangan industri penerbangan domestik, bukan internasional,” kata Erick.

Erick tidak ingin Pelita Air mengulangi kesalahan pendahulunya. Erick meminta manajemen Pelita Air menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dengan mengutamakan proses bisnis yang baik, transparan dan fokus pada pasar domestik.

Maskapai penerbangan lain yang dikendalikan negara dirusak dengan manajemen yang tidak efisien dan korupsi di masa lalu. Pemerintah memutuskan menutup Merpati Airlines tahun lalu setelah maskapai perintis gagal menyelesaikan masalah keuangannya selama bertahun-tahun.

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga berjuang untuk menghindari kebangkrutan, setelah bertahun-tahun salah urus dan korupsi oleh petingginya.

“Saya tidak ragu jika terjadi lagi [di Pelita Air], saya akan melaporkannya [kepada penegak hukum] sendiri. Maskapai ini harus dikelola secara transparan, fokus pada pasar domestik, yang saya rasa merupakan peluang bagi Pelita untuk menjadi besar,” kata Erick.

Dengan Garuda yang kini fokus pada kelangsungan hidup, pasar perjalanan udara Indonesia kini dikuasai oleh Lion Air Group milik Rusdi Kirana. Erick berharap Pelita Air dapat memastikan pasar perjalanan udara domestik tetap kompetitif.

“Kami tidak ingin pasar besar Indonesia menjadi monopoli atau oligopoli,” kata Erick

5/5 - (1 vote)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *